Beranda > Kehidupan > Hidup Perlu Perjuangan (Episode II)

Hidup Perlu Perjuangan (Episode II)

Dalam episode I, Budi masih bertanya apakah ayahnya sudah menemukan tenang, aman dan santai itu ketika Budi terlahir, nah berikut kelanjutannya.

Setelah aku terlahir, apakah ayah bisa tenang, aman dan santai?

Belum juga anakku. Saat kamu terlahir ayah dan ibumu begadang bergiliran karena kamu bangun tiap 2 jam, ibumu harus menyusui kamu dan ayah harus mencuci popok, karena saat itu musim hujan jadi harus segera dicuci. Saat kamu belajar duduk, ayah harus ekstra ketat menjaga kamu, takut kamu sungkir ke depan maupun ke belakang.

Tapi itu semua tidak mengapa, sekarang ayah berat dan sulit, suatu saat ketika kamu bisa jalan ayah pasti tenang, pasti aman, pasti santai.

Setelah aku bisa berjalan, apakah ayah bisa tenang, aman dan santai?

Belum juga anakku. Saat kamu bisa berjalan ayah semakin pusing, karena tiap hari kamu lari ke warung sebelah, mengambil makanan ringan tanpa bawa uang. Tiap hari ayah kena panggilan dari tetangga karena kamu suka mukulin anaknya.

Tapi itu tidak mengapa, sekarang ayah berat dan sulit, suatu saat kamu sudah besar dan sekolah, ayah bisa tenang, bisa aman, bisa santai, karena kamu pasti sudah mengerti mana yang boleh dan mana yang tidak.

Setelah aku besar, apakah ayah sudah tenang, aman dan santai?

Belum juga anakku. Setelah kamu besar dan sekolah ayah pusing tujuh keliling. Biaya sekolah kamu tinggi sekali. Uang gedung, uang SPP, uang les, bayar kursur, belum kamu minta dibelikan HP, sesudah ayah belikan HP kamu minta dikirimi  pulsa.

Kegiatan sekolah tambah padat, kamu minta dibelikan motor, setelah dibelikan motor, tiap hari kamu minta jatah bensin. Setelah jatah bensin, tiap enam bulan kamu minta jatah oli. Setelah dapat jatah oli, tiap tahun kamu minta biaya samsat motor 😦

Begitu kamu kuliah dan tinggal di kota, kamu minta ongkos kost rumah, rambut ayah yang gondrong gundul seperti sekarang, itu semua karena mikirin kamu, masih untung ayahmu tidak stroke 😦

Tapi tidak mengapa, setelah kamu tamat kuliah dan bekerja sendiri ayah pasti tenang, pasti aman, pasti santai.

Sekarang ini apakah ayah bisa tenang, aman dan santai?

Anakku, kita bisa tenang, aman dan santai itu tergantung  dari hati kita untuk menerima tenang, aman dan santai itu sendiri. Hidup perlu perjuangan untuk kita terus bekerja dan berusaha, kita harus tetap bersyukur karena hidup adalah anugrah dan jalan yang kita tempuh merupakan suatu pilihan.

Jangan pernah berhenti pada satu titik, karena masih ada kesempatan untuk kamu membuat titik lain sehingga membuat sudut-sudut kehidupan yang indah.

Ayah menceritakan semua itu, bukan untuk menghitung apa yang telah ayah perbuat tetapi untuk memacu dirimu agar jangan mudah menyerah menghadapi tantangan hidup.

Iklan
  1. Hery
    02/05/2013 pukul 10:45 am

    Ijin sedot n share.!!

Comment pages

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: