Menjadi Seorang Pemimpin

*Pagi itu.

Bud..duduk sini! Temani ayah minum kopi, panggil ayah kepada diriku. Kebetulan lagi santai akupun menemani ayah minum kopi sambil menikmati pisang goreng buatan bunda.

Sekarang ini kamu sudah sarjana, kira-kira langkah selanjutnya apa yang kamu tempuh? Tanya ayah. Maunya maju terus pantang mundur,  aku ingin menjadi Pemimpin Negeri, jawab aku dengan tegas. Ayah cuman tersenyum.

Bud..jika kamu menjadi pemimpin kamu harus ingat tiga hal, diantaranya Ing Ngarso Sun Tulodo yaitu di depan memberi contoh, Ing Madyo Mbangun Karso yaitu ditengah membangun semangat masyarakat dan Tut Wuri Handayani adalah memberi dorongan moral dan semangat kerja  kepada masyarakat.

*Sementara Budi masih terdiam, ayah menjelaskan kembali.

Sangatlah susah menjadi pemimpin, selain harus mampu menjalankan ketiga tersebut, paling tidak pemimpin juga harus memiliki modal 3O.

“O” yang pertama adalah otak yang cerdas. Cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual.

Cerdas intelektual, seorang pemimpin harus berpendidikan dan berwawasan yang luas, tidak kuper/katrok. Cerdas emosional, pemimpin itu harus tanggap dengan masalah yang dihadapi rakyat. Rakyat melarat cepat bantu, jangan hanya menjalankan program tanpa perduli dengan rakyat. Cerdas spiritual, pemimpin itu harus taat beribadah, sayang dengan lingkungan dan asih dengan rakyat sehingga hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia, tetap berjalan indah.

“O” yang kedua adalah otot. Biarpun keinginan dan kemauan besar menjadi pemimpin,  kalau tidak punya masa untuk memilih, tidak punya team sukses untuk menjalankan kampanye, siapa yang mau menjadikan kita pemimpin?

“O” yang ketiga adalah ongkos. Seorang pemimpin harus memiliki ongkos (uang), jaman sekarang siapa yang mau dikasi janji saja. Team sukses melaksanakan kampanye apa cukup diberi semangat saja? Mereka butuh uang untuk membeli bensin, perlu makan dan minum dalam tugasnya, serta mereka juga punya istri dan anak yang butuh makan.

Nah kalau kamu tidak mampu memiliki dan menjalankan kesemuanya itu, lebih baik kamu diam dan tidak usah menjadi pemimpin, cukup cangkul sawah ayah dan jadi pemimpin keluarga yang baik saja :mrgreen:

*Pembicaraan merekapun berakhir dengan gelak tawa. Cerita ini hanya ilustrasi penulis saja, sukses untuk Anda.

Iklan