Ada Pesan Dibalik Cerita Ayah

Nak, ayahmu sudah tua, sebelum ayah meninggal, segeralah kamu menikah dan punya anak. Ayah begitu kangen dengan tangisan bayi, begitu rindu dengan panggilan kakek. Namun perlu kamu ingat, lakukanlah 5 W untuk memilih wanita. Pesan Ayah kepada anaknya.

Ia ayah, jawab Budi. Aku akan segera menikah, tapi aku belum jelas tentang 5W itu, tolong dijelaskan ayah, pinta Budi kepada ayahnya.

*Ayah menjelaskan.

“W” yang pertama adalah wadon. Carilah istri yang benar-benar wadon (wanita), karena jaman sukarang sudah carut marut, mana yang wanita dan pria itu hampir sama. Banyak lelaki berpakaian perempuan, begitu juga sebaliknya, jangan sampai malam pertamamu memalukan, karena mendapatkan istri yang tidak jelas wanita dan prianya.

“W” yang kedua adalah wangsa.  Mencari calon istri lihat juga latar belakang orang tuanya. Jangan sampai kamu memilih istri yang orang tuanya ikut paham teroris, karena itu akan menyusahkanmu. Atau jangan mencari istri yang orang tuanya tukang selingkuh, karena saat kamu kerja di kantoran, istrimu juga buka kantor dirumah, kelakar ayah.

“W” yang ketiga adalah warna. Pilihlah wanita yang pantas, tidak terlau cantik dan tidak terlalu jelek sehingga kamu tidak malu untuk mengajaknya pergi kundangan, jalan-jalan atau arisan dengan ibu-ibu.

“W” yang keempat adalah waras. Saat kamu mencari calon istri, carilah wanita yang waras, wanita yang tidak gila. Jangan sampai kamu memilih wanita yang tidak waras, karena itu juga menunjukkan kalau kamu tidak waras.

“W” yang kelima adalah weruh atau berpendidikan. Wanita itu bisa diajak hidup bermasyarakat, bisa diajak hidup dalam suka dan duka,  mau mengenal sanak family serta taat beribadah. Dengan demikian akan mengangkat martabat kamu sebagai kepala keluarga.

*Budi termenung dan bingung mendengar penjelasan ayahnya.

Ayah ini bagaimana, gimana caranya saya bisa mencari wanita yang sesuai keriteria ayah, sedangkan paras saya aja jelek begini, hitam, pendek dan gemuk, mana ada wanita yang mau dengan diri saya.

Budi anakku, sesungguhnya ayah bangga memiliki anak seperti kamu, kenapa ayah bangga? Karena di desa kita tidak ada anak seperti kamu ini, stoknya sudah habis, kelakar sang ayah.

*Ayah kembali menjelaskan.

Jika fisik kita jelek, jangan jelek itu yang engkau sesalkan namun bagaimana usaha kita untuk memoles kejelekan fisik itu. Bukan bedak, bukan pergi ke salon kamu memoles wajah, namun poleslah diri kamu itu dengan budi pekerti.

Biarpun kamu jelek namun budi pekertimu bagus, maka akan banyak orang yang mengajak kamu berteman dan biarpun parasmu tampan seperti bintang film namun kelakuanmu jelek, tidak ada orang yang mengajakmu berteman.

Jaman sekarang bukan wajah bukan kulit yang dicari, namun sumber daya manusia yang betul-betul berkualitas itu yang dicari. Jati diri, kekuatan dan ketangguhan  kamu menghadapi  rintangan serta tantangan hidup, itu yang terpenting sehingga kamu menjadi suami yang patut diandalkan.

*Budi terdiam mendengarkan wejangan ayahnya.

Iklan