Skip to content

Maksud Baik, Menjadi Obyek Penderita

01/04/2011

Pernahkah niat baik Anda ditanggapi lain? Maksud hati ingin menolong, malah kita menjadi obyek kemarahan orang. Ceritanya begini:

Sore hari ketika asik bermain dengan si Toshi, saya dikejutkan dengan seorang anak kecil  yang lari masuk ke halaman rumah dan berteriak, “Om..om..tolong, bapak lagi ngamuk.” Saya keluar dan kaget melihat anak kecil di pukulin oleh bapaknya, di halaman rumah saya sendiri.

Ketika hendak melerai, si Bapak malah membentak, “Jangan ikut campur ini urusan keluarga.” Saya mengerti itu urusan keluarga, tapi ketika terjadi tindak pidana, katakanlah tidak sengaja memukul anaknya dan mengakibatkan dia meninggal, apa itu masih urusan keluarga? Tidakkah menjadi urusan hukum? Lalu yang rugi siapa?

Saya sendiri tidak mempunyai kepentingan dalam urusan itu. Cuman saya tidak ingin anak itu dipukuli, tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih jauh, karena biar bagaimanapun mereka adalah bapak dan anak. Dan sebagai tetangga rasanya tidak salah kalau kita saling membantu untuk mengingatkan, apalagi sudah berada di halaman rumah kita.

Saya sih tidak perduli apa kata orang tuanya, yang jelas anak itu saya suruh masuk kedalam rumah, hal hasil saya menjadi obyek kemarahan si Bapak yang sudah kemasukan setan. Memaki, membentak  dan sejenisnya.

Namun saya masih tetap pada prinsip, “Kalau kemarahan itu hanya mampu diredakan dengan kesabaran,” jadi saya membiarkan dia mengumpat habis-habisan. Syukurlah akhirnya si Bapak mau mereda dan  mengerti kekeliruannya.

Kita memiliki kekuatan, memiliki kemampuan dan memiliki kekuasaan, bukan untuk kekerasan. Lebih-lebih kepada anak kita sendiri. Bukankah kekuatan yang kita miliki seharusnya untuk melindungi yang lemah? Melindungi keluarga kita sendiri.

Terlepas apa akar permasalahan diantara mereka, setidaknya masih bisa diselesaikan dengan musyawarah, jangan terlalu cepat mengambil tindakan fisik. Sebelum akhirnya nanti kita menyesali apa yang kita perbuat.

 

 

21 Komentar leave one →
  1. 02/04/2011 10:41 am

    ceritanya bagus mas, bisa belajar tentang sebuah kesabaran tanpa batas, dan belas kasih kepada siapapun… mestinya semua persoalan bisa diselesaikan…

    Salut dgan jenengan mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: