Diam itu Emas?

Saya sering bertanya, apakah selamanya diam itu emas? Tentu hal ini menjadi relatif. Katakanlah pada saat diadakan rapat, saat kita hadir dengan tiga “D” (duduk,dengar dan diam) tentu tidak akan mengurangi ongkos tiket pulang, tetapi apakah itu yang diharapkan? Atau kita hadir dengan sejuta ocehan, serta menolak pendapat orang lain, dan mengagungkan pendapat kita sendiri, tentu hal ini tidak diharapkan juga.

Jadi seharusnya bagaimana? Diam itu akan menjadi emas jika kita meletakkan sesuai pada fungsi dan tempatnya, kapan saat kita bicara dan kapan saat kita diam. Tetapi jika seharusnya kita berbicara tentang sesuatu yang kita ketahui dan memberikan kebaikan kepada semuanya, lalu kita diam, maka diam itu adalah diam yang merugikan.

Ini hanya sekedar cerita pada saat saya terdiam dan jari tangan mengetik, karena sangatlah rugi jika saya mempunyai kesempatan, tetapi hanya diam berpangku tangan,  dan malu terhadap sepiring nasi yang saya makan 😆

Iklan

7 pemikiran pada “Diam itu Emas?

  1. mengunjungi rumah baru bliku, 🙂

    Diam itu emas, tapi kalau tak sesuai dengan tempatnya nggak jadi emas juga yah bli, yang ada malah kesia-siaan.

    salam sayang, saudarimu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s